JAKARTA. Pasar
saham Indonesia kembali bergerak positif, meski bursa global sedang tertekan.
Penopangnya dua hal: nilai transaksi yang makin ramai dan dana asing yang mulai
masuk lagi ke saham-saham dalam negeri.
Pada perdagangan
Senin (20/7/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 56,24 poin
atau 0,91% ke level 6.231,78.
Head of Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai arah IHSG dalam
waktu dekat masih cenderung menguat.
"Bias jangka
pendek IHSG masih positif, didukung peningkatan nilai transaksi dan mulai
kembalinya foreign inflow ke saham big caps," kata Liza kepada Kontan,
Senin (20/7/2026).
Ia mencatat
rata-rata nilai transaksi harian pekan lalu melonjak 36,25% menjadi Rp 13,99
triliun. Investor asing juga tercatat membeli bersih (net buy) Rp 725,11 miliar
pada perdagangan Jumat.
Selama IHSG bisa
bertahan di atas 6.100–6.150, menurut Liza, indeks berpeluang naik menguji
6.250 hingga 6.300.
Baru
sebatas "napas lega"
Meski begitu,
Liza mengingatkan kenaikan ini belum berarti tren pasar benar-benar berubah. Ia
menyebutnya sebagai relief rally alias kenaikan sesaat setelah tekanan mereda.
"Ini masih
relief rally dalam tahap konfirmasi, belum full market re-rating,"
ujarnya.
Ia memperkirakan
IHSG masih akan naik-turun cukup tajam ke depan. Kelanjutan penguatan sangat
bergantung pada seberapa konsisten dana asing masuk ke saham berkapitalisasi
besar.
"Market
tidak hanya membeli announcement, tetapi juga execution," kata Liza.
Faktor lain yang
ikut menentukan adalah stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan Bank
Indonesia, serta kelanjutan reformasi pasar modal.
Bank
besar dan konglomerasi jadi motor
Liza menyebut
penguatan IHSG ditopang dua kelompok saham. Pertama, bank-bank besar seperti PT
Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat
Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Kedua, saham
konglomerasi berkapitalisasi jumbo, antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk
(TPIA), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT
Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Prospek saham
bank dinilai membaik karena harganya kini relatif murah dan minat asing mulai
kembali. "BBCA tetap unggul dari sisi kualitas, sementara BMRI, BBRI, dan
BBNI menawarkan potensi recovery yang lebih besar," katanya.
TPIA dan PTRO
juga dianggap menarik setelah harganya turun dalam. Sementara BREN dan DSSA
berpeluang kembali dilirik asing jika likuiditas dan free float-nya membaik.
Untuk pilihan
investasi, Kiwoom dalam Market Outlook semester II 2026 merekomendasikan INCO,
ANTM, PANI, BBRI, MTEL, JSMR, JPFA, KLBF, dan BBNI.
Belum ada
sentimen kuat
Di sisi lain,
Pengamat Pasar Modal Irwan Ariston menilai pergerakan IHSG saat ini masih wajar
dan belum didorong sentimen khusus.
"Pergerakan
hari ini bagi saya pergerakan yang biasa dan wajar. Tidak ada hal khusus yang
menjadi pemicunya," ujarnya.
Menurut dia,
pelaku pasar masih menunggu langkah pemerintah membenahi struktur anggaran
negara agar bisa memberi stimulus bagi perekonomian dalam negeri.
Tambah Komentar Baru