Kamu Butuh Sebuah Cerita — dan
Keberanian untuk Terus Bercerita.
Ada momen dalam hidup ketika
kamu duduk di depan laptop, membuka tab demi tab lowongan kerja, dan menyadari
satu hal yang menyakitkan: kamu tidak tahu lagi siapa dirimu di luar
pekerjaan itu.
Joe Pulizzi pernah berada di
titik itu. Di tahun 2007, ia keluar dari jabatan Vice President di sebuah
perusahaan media besar — melepas gaji enam angka, melepas tunjangan, melepas
rasa aman yang selama ini ia bangun. Istrinya berhenti bekerja. Dua anak kecil
menunggu di rumah. Tabungan mulai menipis.
Dan ia memilih untuk
tidak menjual apa pun.
Bukan karena ia tidak punya ide
produk. Tapi karena ia percaya pada sesuatu yang belum banyak orang pahami
waktu itu: bahwa audiens yang setia adalah aset paling berharga yang bisa
dimiliki siapa pun. Lebih berharga dari modal. Lebih berharga dari kantor.
Bahkan lebih berharga dari produk terbaik sekalipun.
Dunia Berbohong
kepada Kita Tentang Cara Membangun Bisnis
Sejak kecil kita diajarkan
urutan yang sama: punya ide → buat produk → cari pelanggan → promosikan →
berharap laku.
Dan sebagian besar dari kita
gagal di langkah terakhir.
Pulizzi, melalui buku Content
Inc., menawarkan urutan yang berbeda — dan terasa seperti tamparan
lembut yang lama kita butuhkan:
Bangun audiens dulu. Cari tahu apa yang
mereka butuhkan. Baru kemudian jual.
Kedengarannya sederhana. Bahkan mungkin terlalu
sederhana. Tapi lihat apa yang terjadi ketika prinsip ini benar-benar
dijalankan.
Kisah-Kisah yang Akan
Membuatmu Malu Menyebut Dirimu "Belum Siap"
Matthew Patrick adalah seorang
aktor pengangguran. Dua tahun di New York, ia mengirim ratusan lamaran. Tidak
ada yang membuka pintu untuknya. Kepercayaan dirinya hancur.
Lalu ia memutuskan untuk
melakukan satu hal: menggabungkan kecintaannya pada video game dengan gelar
neurosains-nya, dan membuat video YouTube mingguan tentang matematika di balik
game. Tidak ada studio. Tidak ada sponsor. Tidak ada jaminan siapa pun akan
menonton.
Satu tahun kemudian, ia punya
500.000 subscriber. YouTube sendiri kemudian menyewa Matthew untuk
konsultasi tentang cara menumbuhkan audiens di platform mereka.
Lalu ada Marcus Sheridan.
Pemilik usaha kolam renang kecil di Virginia yang hampir bangkrut di tengah
resesi 2008. Setiap minggu pelanggan menarik uang muka mereka — terkadang
senilai $50.000 sekaligus. Rekening perusahaan overdraft berulang kali.
Marcus tidak punya uang untuk
iklan. Yang ia punya hanyalah waktu dan pertanyaan-pertanyaan pelanggan yang
belum terjawab. Maka ia duduk, menuliskan setiap pertanyaan yang pernah
ditanyakan calon pembeli, dan menjawabnya satu per satu di blog perusahaan.
Dua tahun kemudian, River Pools
& Spas menjadi pemasang kolam fiberglass terbesar di Amerika Utara.
Anggaran pemasaran mereka turun dari $250.000 menjadi $40.000 per tahun. Dan
satu artikel berjudul "Berapa Harga Kolam Fiberglass?" menghasilkan
lebih dari $2 juta dalam penjualan.
Bukan karena produknya
ajaib. Tapi karena Marcus mau menjawab pertanyaan yang tidak mau dijawab siapa
pun.
Kamu Sudah Punya
Bahan Bakunya — Kamu Hanya Belum Melihatnya
Salah satu konsep paling kuat
dalam Content Inc. adalah apa yang Pulizzi sebut sebagai "sweet
spot" — titik temu antara keahlian yang kamu miliki dan passion yang
membuatmu tidak bisa berhenti bicara tentangnya.
Michelle Phan tumbuh besar
dalam kemiskinan, berpindah-pindah rumah puluhan kali. Kekerasan dalam keluarga
adalah kesehariannya. Yang menyelamatkan sanity-nya adalah makeup — cara ia
bisa mengubah dirinya, melarikan diri sejenak dari kenyataan yang menyakitkan.
Ia menggabungkan keahlian menggambar (skill) dengan kecintaan pada makeup
(passion), dan memulai blog sederhana.
Video tutorialnya kini telah
ditonton lebih dari satu miliar kali. L'Oreal, merek kosmetik terbesar di
dunia, mengajaknya bermitra meluncurkan lini makeup bernama "em".
Anak perempuan miskin yang melarikan diri ke makeup sebagai pelarian kini menjadi
pemimpin industri kecantikan global.
Pertanyaan yang ingin
Pulizzi titipkan kepadamu adalah ini:
Hal apa yang bisa kamu bicarakan selama
berjam-jam tanpa merasa lelah? Pengetahuan apa yang kamu miliki yang orang lain
tidak punya?
Mungkin itu tentang merawat tanaman di apartemen
sempit. Mungkin tentang memasak dengan budget terbatas. Mungkin tentang cara
bekerja dari rumah sebagai ibu dua anak. Apa pun itu — ada orang di luar sana
yang sangat membutuhkan pengetahuan itu. Dan mereka sedang menunggu kamu untuk
berbagi.
Internet Tidak Butuh
Lebih Banyak Konten. Internet Butuh Suaramu.
Ada jutaan blog tentang
marketing. Ada ribuan podcast tentang investasi. Ada ratusan channel YouTube
tentang memasak.
Dan tidak ada satu pun dari
mereka yang memiliki cara berpikirmu. Pengalamanmu. Kegagalanmu. Pemulihan
darimu.
Pulizzi menyebut ini sebagai "content
tilt" — sudut pandang unik yang membuat kontenmu tidak bisa digantikan
oleh siapa pun. Bukan tentang menemukan topik baru yang belum ada. Tapi tentang
membawa perspektif yang hanya bisa kamu bawa.
Joy Cho bukan satu-satunya
desainer grafis yang punya blog. Tapi ia adalah satu-satunya yang menulis
dengan keaslian yang begitu mentah, begitu manusiawi, sehingga jutaan orang
merasa seolah membaca pesan dari sahabat lama. Kini ia bermitra dengan Target,
Microsoft, dan Johnson & Johnson. Blog yang dimulai di antara dua pekerjaan
berubah menjadi sebuah kerajaan kreatif.
Hal Paling Sulit
Bukan Memulai — Itu Terus Berjalan Ketika Belum Ada yang Melihat
Pada tahun 2009, dua tahun
setelah Pulizzi memulai Content Marketing Institute, ia hampir menyerah. Uang
habis. Model bisnisnya tidak berjalan sesuai rencana. Ia duduk bersama istrinya
dan mempertimbangkan untuk menutup semuanya dan kembali mencari pekerjaan.
Hanya sembilan bulan setelah
momen hampir menyerah itu, ia menemukan model yang benar.
Ini adalah kenyataan yang
jarang dibicarakan dalam dunia entrepreneurship: sebagian besar orang
menyerah tepat sebelum semuanya berubah.
Dalam model Content Inc., butuh
rata-rata dua belas hingga tiga puluh enam bulan untuk mulai melihat hasil
nyata. Bukan karena strateginya lambat. Tapi karena membangun kepercayaan
manusia memang butuh waktu. Dan kepercayaan adalah satu-satunya fondasi bisnis
yang benar-benar tahan lama.
Hari ini, Content Marketing
Institute adalah bisnis senilai $10 juta. Pulizzi bisa menjemput anaknya dari
sekolah setiap hari. Itu bukan sekadar pencapaian finansial — itu kebebasan
yang ia rancang dengan sadar, satu artikel pada satu waktu.
Sebuah Pertanyaan
untuk Kamu Bawa Pulang
Buku ini bukan tentang
content marketing. Tidak benar-benar.
Buku ini tentang keberanian
untuk percaya bahwa pengetahuanmu berharga. Bahwa pengalamanmu layak dibagikan.
Bahwa ada orang-orang di dunia ini yang hidupnya akan sedikit lebih mudah
karena kamu mau repot berbagi apa yang kamu tahu.
Kita hidup di era paling
demokratis dalam sejarah komunikasi manusia. Untuk pertama kalinya, kamu tidak
butuh izin siapa pun untuk menerbitkan ide. Tidak butuh penerbit. Tidak butuh
studio. Tidak butuh investor. Kamu hanya butuh satu hal:
Mulai. Dan jangan berhenti.
Matthew Patrick memulai tanpa penonton. Marcus Sheridan
memulai dalam kebangkrutan. Michelle Phan memulai dalam kepedihan. Joy Cho
memulai di antara dua pekerjaan. Pulizzi sendiri memulai dengan rekening yang
kosong dan keyakinan yang hampir habis.
Yang membedakan mereka bukan
bakat. Bukan modal. Bukan koneksi.
Yang membedakan mereka adalah mereka tidak berhenti pada hari ketika tidak ada yang menonton.
Tambah Komentar Baru